Menu

logo
Home Inspirations Bramantyo Djohanputro Jembatan Menjadi Eksekutif antara Menteng - Taipei

Jembatan Menjadi Eksekutif antara Menteng - Taipei

Visi para tokoh pendidikan untuk mengembangkan generasi muda menduduki posisi Eksekutif di kawasan Asia sudah bergema sejak tahun 1960-an. Melalui pengembangan kampus yang berkualitas, para alumninya diharapkan berkontribusi pada pembangunan, terutama melalui sektor bisnis. Dan banyak dari mereka yang berhasil menduduki posisi puncak korporat maupun menjadi pengusaha. Kampus-kampus tersebut berusaha untuk saling bekerjasama untuk membangun sinergi supaya mampu menghasilkan alumni yang memiliki kompetensi mumpuni untuk bersaing di era global.

Bagaimana kampus di Menteng inisiatif dari Prof. A.M. Kadarman, yaitu PPM School of Management, mengembangkan visi untuk menghadapi kondisi global, dan Fu Jen Chatolic University, Taipei, buah karya Cardinal Paul Yü Pin, menjalin kerjasama untuk menyiapkan calon-calon pimpinan tangguh, berikut landasannya.

Dengan bergulirnya AEC, Asean Economic Community, atau MEA, Masyarakat Economi Asean, investor kawasan Timur Jauh ke Indonesia semakin banyak. Sebut saja Jepang, rajanya investor asing, atau foreign direct investment (FDI) di Indonesia, diikuti Tiongkok, Korea Selatan, dan lambat tapi pasti Taiwan. Mereka berkompetisi dengan pusat-pusat FDI dari kawasan lain seperti Amerika Serikat, Eropa, Britania Raya, India, dan Brasil.

Investor masuk ke Indonesia karena ada beberapa faktor yang menggiurkan. Bukan saja sumber daya alam yang (masih) berlimpah, tetapi juga tenaga kerja yang masih bersaing, tingkat kemananan sosial dan politik yang terus membaik, dan budaya atau masyarakat yang menerima kedatangan korporasi dan produk asing dengan baik. Sebelum melakukan investasi, para investor selalu mengkaji kelayakan dan tingkat risiko usaha.

Salah satu model asesmen tingkat risiko adalah menggunakan model FIRM, foreign investment risk matrix, sebuah model untuk mengidentifikasi seberapa besar risiko suatu Negara, dilihat dari risiko finansial atau ekonomi dan risiko politik. Asesmen risiko finansial bertujuan untuk mengenali seberapa stabil kondisi finansial dan ekonomi suatu Negara sehingga FDI yang dijalankan bisa menghasilkan imbal hasil yang menggiurkan dan aman, sedangkan asesmen politik menilai seberapa baik penerimaan pemerintah dan masyarakat terhadap FDI, dan juga seberapa baik kondisi kestabilan di Indonesia.

Di tengah kemajuan dan daya tarik Indonesia, kita juga harus mewaspadai banjirnya tenaga kerja asing ke Indonesia, seperti dari India, Filipina, Jepang, Tiongkok, Korea Selatan, dan Taiwan. Mereka dekat dengan para investor yang masuk ke Indonesia, sehingga wajar mampu menembus pasar tenaga kerja Indonesia. Selain itu, mereka juga memiliki kualitas yang baik, dilihat dari pendidikan, pengalaman, penguasaan bahasa, dan pada akhirnya produktivitas.

Dalam era MEA tersebut, pendidikan harus mampu memperisapkan mahasiswa menjadi alumni yang mampu menghadapi persaingan lapangan kerja tingkat global, sekaligus mengelola institusi, baik korporasi maupun institusi lain yang memberi nilai tambah bagi para pemangku kepentingan, stakeholders. Poros pendidikan Menteng – Taipei diharapkan mampu menjawab tantangan tersebut.

Kami baru saja kembali dari Taipei untuk menjalin kerjasama dengan sebuah perguruan tinggi ternama dan mendapat akreditasi internasional, antara PPM School of Management dengan Fu Jen Catholic University, Taiwan.

Persaingan lapangan kerja saat ini bukan saja pada tingkat nasional. Dengan dibukanya keran kerjasama antara Negara, Negara-negara antar Asean dapat dengan leluasa mengembangkan saya bisnis antar negara. Bukan hanya itu saja, aliran modal, capital flow, dan aliran tenaga kerja, aliran produk, product flow, antar Negara menjadi sangat murah melalui penghapusan berbagai hambatan.

Dalam kaitan dengan dunia pendidikan, aliran tenaga kerja, human flow, juga menjadi trending topic dalam waktu dekat. Sementara itu, kita menyadari bahwa tenaga kerja Indonesia, khususnya untuk skilled labour dan tenaga professional, kurang mampu bersaing dengan mereka-mereka dari negara tetangga, seperti Filipina. Jauh lebih banyak skilled labours dan professionals asing masuk ke Indonesia dari pada sebaliknya.

Usaha yang dilakukan pemerintah dan perguruan tinggi adalah untu memastikan anak didik dan alumni perguruan tinggi Indonesia mampu menjadi pemenang dan tuan rumah yang unggul di negeri sendiri, sekaligus mampu memasok tenaga kerja ke luar negeri, khususnya kawasan Asean.

PPM School of Management berinisiatif untuk menjalin kerjasama untuk memastikan bahwa peserta didik dan alumninya mampu memenuhi tuntutan pasar tenaga kerja. Dengan program kerjasama Integrasi 3+2, maka mahasiswa mendapat beberapa manfaat penting. Pertama, program integrasi 3+2 berarti kuliah di PPM School of Management selama tiga tahun dan dilanjutkan kuliah di Fu Jen University, Taiwan, selama dua tahun, mahasiswa dapat memperoleh dua gelar sekaligus, S.M. dan imMBA, MBA untuk international management.

Kedua, sekalipun kuliah dijalankan dalam bahasa Inggris, kehidupan sehari-hari akan memaksa mahasiswa Indonesia di Taiwan untuk berkomunikasi dalam bahasa Mandarin. Nilai tambah tersebut akan sangat penting karena banyaknya investor Timur Jauh di Indonesia menuntut bahasa Mandarin sebagai salah satu keunggulan melalui komunikasi.

Ketiga, kampus tersebut sangat disiplin. Bila orang tua merasa kurang yakin dengan anak yang dikirim ke Taiwan, Fu Jen University menyediakan asrama dengan disiplin yang tinggi. Dengan demikian, mahasiswa akan aman dan dapat mengikuti pendidikan dan kehidupan masyarakat dengan sangat baik.

Dan keempat, program internasional yang ditawarkan memaksimumkan eksposur internasional. Dengan demikian, setelah menjadi alumni, mahasiswa tersebut siap berkompetisi secara global dengan kondisi yang actual dengan kebutuhan tenaga kerja di Indonesia dan Asean. Tentu program ini hanya cocok bagi calon mahasiswa yang siap unggul dalam persaingan.

Tulisan ini dimuat di Majalah Hidup Edisi 01 Maret 2015
Penulis adalah Dosen PPM School of Management dan Pengamat Bidang Keuangan dan Manajemen
Oleh: Bramantyo Djohanputro PhD

Download PDF