Menu

logo
Home Inspirations Bramantyo Djohanputro Human Capital dalam Era MEA dan Kerjasama Asia-Afrika

Human Capital dalam Era MEA dan Kerjasama Asia-Afrika

A person is only as big as the dream they dare to live. -- anonim

MEA, Masyarakat Ekonomi Asean, telah menciptakan peluang sekaligus tantangan bagi masyarakat Indonesia. Indonesia merupakan pasar terbesar di kawasan Asean, baik dari jumlah masyarakat sebagai konsumen, maupun dari sisi PDB, Produk Domestik Bruto. Persoalannya, bila Indonesia “menyerah” hanya menjadi konsumen, ekonomi Indonesia bakal menyusut. Oleh karena itu, Indonesia harus menjadi produsen. Masyarakat yang banyak bukan dipandang sebagai konsumen potensial, tetapi sebagai Human Capital yang produktif. PDB Indonesia tidak dipandang sebagai daya beli yang tinggi, tetapi sebagai produksi yang tinggi.

Hal yang sama juga perlu diterapkan dalam memposisikan Indonesia dalam perkembangan ekonomi Asia-Afrika. Bila momen Konferensi Asia-Afrika, atau KAA, pada tahun 1955 menitikberatkan pada aspek politik, KAA pada tahun 2005 memberi tekanan pada aspek politik dan ekonomi, KAA tahun 2015 ini memberi porsi yang makin besar pada aspek kemajuan dan kerjasama ekonomi. Misalnya, selain menawarkan kepada pemerintah Etiopia untuk membuka kedutaan di Indonesia, Presiden Jokowi juga menawarkan senjata dan rompi produksi Indonesia kepada Perdana Menteri Kamboja.

Dari berbagai aspek yang perlu mendapat perhatian, Human Capital atau HC Indonesia menghadapi tantangan yang besar. Negara-negara tetangga telah siap-siap memanfaatkan kebebasan berkarya di sesama negara Asean untuk membanjiri Indonesia. Sebagian besar pandangan mereka adalah, Indonesia sebagai pasar yang besar menawarkan berbagai kesempatan untuk menyediakan barang dan jasa. Oleh karena itu, banyak kampus dan lembaga pendidikan menyediakan pelajaran atau kursus bahasa Indonesia, untuk menjadikan masyarakat mereka siap pakai di Indonesia.

HC merupakan kompetensi, baik kompetensi teknis, lunak, maupun manajerial, pengetahuan, dan intangible assets yang dimiliki oleh seseorang yang bermanfaat untuk menciptakan nilai ekonomis, baik bagi dirinya sendiri, perusahaan atau institusi, maupun masyarakat. Untuk memiliki kompetensi, pengetahuan, dan intangible assets, seseorang harus melakukan investasi melalui pendidikan dan proses pembelajaran, baik formal maupun non-formal, baik off-site maupun on-site.

Sudah diketahui bersama, bahwa Human Development Index atau HDI masyarakat Indonesia tertinggal dibandingkan dengan beberapa negara tetangga, terutama Singapura, Thailand, Filipina, dan kini Malaysia mengejar Indonesia, disusul oleh Vietnam dan Kamboja. Tidak mustahil, Timor Leste juga mengebut untuk menyusul kualitas HC negara-negara tetangganya, termasuk Indonesia.

Kesadaran perlunya mengejar ketertinggalan HC disadari oleh individu, sektor usaha, sektor pendidikan, maupun sektor publik atau pemerintah. Saat ini banyak generasi muda mengikuti pendidikan program pascasarjana dengan menggunakan biaya pribadi. Ini berbeda sekali dengan kondisi sepuluh tahun yang lalu, dimana masyarakat bersedia kuliah pascasarjana bila ada beasiswa. Bahkan para karyawan dengan tingkat pendidikan SLTA dan diploma pun banyak yang berbondong-bondong mengikuti pendidikan sarjana dengan menggunakan biaya sendiri. Orang-orang dan karyawan seperti inilah yang siap berkompetisi di pasar MEA dan memanfaatkan peluang pengembangan ekonomi di kawasan Asia-Afrika.

Sektor usaha semakin merasa perlu meningkatkan tingkat pendidikan karyawannya karena investasi ke dalam HC akan secara langsung memberi nilai tambah ekonomis bagi perusahaan. Ukuran nilai ekonomis tersebut dapat berupa kenaikan laba bersih, kenaikan ROI, Return on Investment, maupun produktivitas karyawan. Itulah sebabnya, saat-saat seperti sekarang di mana ekonomi sedang dalam kondisi cukup baik, perusahaan umumnya memberi prioritas untuk meningkatkan kualitas HC melalui pendidikan untuk mendorong kinerja perusahaan.

Sangat disayangkan bila perusahaan belum memiliki kebijakan investasi HC, karena perusahaan akan mengalami kesulitan mengalokasikan anggaran untuk peningkatan HC pada saat terjadi economic downturn. Dalam kondisi stagnasi, bahkan resesi investasi HC biasanya menjadi korban pertama karena perusahaan ingin menyelamatkan cash flow.

Institusi pendidikan dalam negeri juga kejar-kejaran dengan waktu, untuk memastikan bahwa anak didik dan alumninya memiliki kualitas yang mumpuni untuk bersaing dalam kancah regional dan global. Perbaikan kualitas pendidikan dilakukan dengan melibatkan para alumni yang telah berhasil di pasar global, untuk memastikan bahwa program pendidikan dan kurikulum yang disusun sesuai kebutuhan.

Dukungan yang perlu terus dikembangkan adalah sektor publik atau pemerintah. Dukungan tersebut berupa kelulasaan lembaga pendidikan dan perguruan tinggi untuk berkreasi dan memanfaatkan berbagai bentuk capital, termasuk teknologi, sebagai bagian dari proses pengajaran. Dukungan lain yang sangat diperlukan juga adalah melalui program peningkatan kualitas sarana dan pada dosen, baik untuk perguruan tinggi negeri maupun swasta, sehingga yang kita miliki paling tidak setara dengan yang dimiliki perguruan tinggi di negara-negara tetangga yang lebih maju. Bila semua sudah disiapkan, sisanya adalah mekanisme pasar.