Menu

logo
Home Alumni Sambutan Ketua

Sambutan Ketua Alumni

Agung Adi Prasetyo, Sukses Mengawal Transformasi Kompas Gramedia

“Perusahaan perlu ber-transformasi, karena perubahan di luar terjadi demikian cepat, dan terjadi di semua lini baik demografi, industri, teknologi, gaya hidup dan tentunya para pesaing. Sehebat-hebatnya perusahaan, jika dia hanya berjalan ditempat, maka dia akan segera tergilas perubahan.”

Merasa bahwa gelar Sarjana Ilmu Pendidikan yang disandangnya tidak cukup, Agung memutuskan bahwa ia harus mendapat gelar S-2. Di antara dua pilihan, Agung memilih PPM School of Management (PPM SoM) yang pada saat itu masih dikenal sebagai Institut Pendidikan dan Pembinaan Manajemen (IPPM). Maka pada tahun 1982 Agung   tercatat sebagai Peserta Program Wijawiyata Manajemen Angkatan VIII, lalu beliau melanjutkan Program  MBA di tahun 1987, lalu ditutup dengan Program Magister Manajemen (MM) pada tahun 1991.

Di balik sosoknya yang sederhana, Mas Agung, demikian beliau biasa disapa, dianggap orang yang paling bertanggung jawab dari segenap perubahan yang terjadi dalam tubuh Kompas Gramedia. Kembalinya Kompas merambah industri pertelevisian tanah air dengan Kompas TV adalah salah satunya. Bagi beberapa pengamat bisnis Mas Agung membawa Kompas dalam ranah bisnis yang lebih profesional, tanpa bermaksud mengatakan sebelum kepemimpinan Agung Kompas tidak profesional.

Mas Agung menganggap bahwa transformasi memang mutlak harus dilakukan karena perubahan di luar terjadi demikian cepat, dan terjadi di semua lini baik demografi, industri, teknologi, gaya hidup dan tentunya para pesaing. Sehebat-hebatnya perusahaan, jika dia hanya berjalan ditempat, maka dia akan segera tergilas perubahan, demikian pula dengan Kompas. Lebih jauh beliau mengatakan, “Proses transformasi memaksa semua orang, semua lembaga, dan semua aspek kehidupan termasuk pemerintahan, sekolah, bahkan lembaga sosial keagamaan untuk selalu berubah mengikuti perkembangan jaman. Dan setiap kali proses transformasi itu dihadapkan pada keraguan klasik, berubah total dengan membuat sesuatu yang baru, atau kombinasi dan kompromi dengan kondisi yang ada.”

“Perusahaan perlu ber-transformasi, karena perubahan di luar terjadi demikian cepat, dan terjadi di semua lini baik demografi, industri, teknologi, gaya hidup dan tentunya para pesaing. Sehebat-hebatnya perusahaan, jika dia hanya berjalan ditempat, maka dia akan segera tergilas perubahan.”

Mas Agung tidak memungkiri bahwa  kunci sukses transformasi ada di pundak para pemimpinnya, karena pimpinan lah yang membentuk budaya dan memberi warna perusahaan. Agung menambahkan, “Pemimpin yang sukses mengawal proses transformasi adalah pemimpin  yang punya visi akan dibawa kemana lembaga yang dipimpinnya. Dia harus bisa dan juga berani mengeksekusi arah baru transformasi apapun risikonya. Selebihnya dibutuhkan pimpinan yang tidak mudah ragu, tegas, dan bisa mengajak semua orang yang dimpimpinnya menyadari perubahan memang harus dilakukan!”

Sementara menurut Agung Inovasi adalah upaya untuk  mengemas ulang atau bahkan mengubah secara siginifikan produk yang telah ada , sehingga hadir dengan produk baru yang lebih segar dan lebih sesuai dengan permintaan pasar yang memang tidak pernah terpuaskan. Kebetulan sebagian besar produk di Kompas Gramedia adalah produk yang berubah setiap saat. Koran atau majalah tak mungkin sama hari ini dengan hari kemarin. Oleh karena itu secara naluri inovasi di Kompas Gramedia sudah menjadi bagian hidup sehari-hari. Namun hal ini menyimpan potensi kelemahan, karena telah dianggap sebagai hal yang biasa maka  tak ada hal yang mengejutkan, tak ada yang aneh. Oleh karena itu di Kompas Gramedia digelar kompetisi inovasi, dibangun juga unit khusus yang menggawangi proses  invovasi dan memberi penghargaan bagi inovasi yang dianggap signifikan dan membuat perbedaan bagi organisasi.

Ketika menjalani pendidikan di PPM SoM, Mas Agung merasa tidak hanya mendapat  pengetahuan dan keterampilan, namun PPM juga membentuk sikapnya untuk menjadi pemimpin masa depan. PPM telah melatihnya bekerja keras,  berdisiplin, melatihnya  bekerja dalam tekanan, namun lebih dari itu PPM telah membentuk sikap kerjanya yang beretika, dasn akhirnya menantangnya untuk unjuk  prestasi terbaik karena sesungguhnya kompetisi tidak lah ringan.ndi/nky/I/13